Uang Bukanlah Segalanya, Tapi Segalanya Perlu Uang..

2.4 Ghz Homebrew

Jaring Nyamuk ke Jaring Wifi

  1. Pertama
    Pada awalnya, saya bereksperimen komunikasi data, mailing list, chating, dll dengan Radio Paket, bersama-sama dengan YD1JEA, YC1JEL, YC1FOS, dan beberapa teman amatir radio. Perkembangan selanjutnya, adalah maraknya penggunaan frekuensi 2,4GHz untuk komunikasi data, browsing, chating, dll. Internet yg pada saat ini sudah menjadi salah satu “bahan makanan pokok” bagi mereka yang gemar mengkonsumsi “IT” adalah media pembelajaran dalam banyak bidang. Salah satunya, bagi saya bahwa internet adalah obat penghilang rasa kepenasaran untuk beberapa hal, termasuk seluk beluk perangkat lunak dan perangkat keras untuk 2,4 GHz.
    Secara umum, saya hanyalah salah satu penggembira di dunia wifi 2,4 GHz. Masih banyak teman-teman yang lain yang lebih memahami segala seluk beluk wifi ini.
  2. Kedua
    Pada satu saat, saya tidak sengaja melihat satu buah Ralink wireless card 2nd di etalase gerai service computer di Plaza A Yani Bandung. Ternyata, akibat bekas pakai orang lain, wireless card tersebut tdk dilengkapi dengan antenna standarnya. Dengan alasan ini, negosiasi untuk menentukan harga mati bagi perpindahan kepemilikan perangkat wireless card itu dilakukan dengan mulus.
    Oh ya…, sebelumnya saya katakan bahwa untuk saluran transmisinya saya menggunakan Filotex Coaxial Cable mantan antenna  link GSM sebuah operator terkenal di Indonesia yang dibuang begitu saja di tempat sampah (Buka kedok side job: Pemulung) salah satu kantor yang lahannya disewa untuk BTS operator cellular tersebut di Bandung tercinta ini. Setelah bertukar cerita tentang Sultan Mahmud Badaruddin II dengan satpam tuh kantor, maka 30m kabel itu berpindah tangan deh!!! Saya berpikir bahwa, dengan frekuensi GSM berkisar 1,8 GHz, maka frekuensi 2,4GHz pasti bisa dilalui oleh kabel jenis ini. Tidak mungkin batas maksimal frekuensi kerja kabel ini berkisar 2 GHz. Setelah mendapat data teknis di internet yang menyebutkan bahwa coaxial cable tersebut tipe Low Lose, dielektrikalnya Foam, Frekuensi kerjanya hingga 5 GHz, dan impedance 50 Ohm, maka dimulailah perburuan data-data antenna. Ini adalah pengganti LMR 400 yang  hebat itu.
  3. Ketiga
    Dimulai dengan menyiapkan beberapa konektor tipe N untuk kabel coax 15m, antenna, dan wireless card, eksperimen pertama adalah membuat antenna Biquad. Spesifikasi teknis antenna ini saya ikuti sesuai dengan salah satu data biquad yang ada di internet. Setelah saya pasangkan pada ketinggian 10 m dpa, hasilnya pada Netstumbler ada 7 AP di sekitar rumahku. Setela mencoba konekksi, ternyata bisa untuk jarak AP 1 Km.
    Kepenasaran kedua tertuju pada Wajanbolic dengan feed pointnya antenna dipole. Desain dan konstruksinya menyerupai dipole pada antenna Grid 24 dBi. Terpasang pada ketinggian yang sama, hasilnya pada Netstumbler ada 16 AP yang termonitor.
    Kegilaan ketiga adalah pembuatan parabolic reflector dengan feed point antenna adalah Cantenna (antenna kaleng: Twister). Desain teknis untuk antenna kalengnya sama dengan apa yang ada di internet. Hanya saja berbeda untuk parabolic reflektornya. Sayang sekali foto-foto realitanya terhapus, tapi saya susul dengan foto antenna yang sdh terpasang pada tiangnya.

 

   dscn0322_400 

Antena 2.4 Ghz Dari Kaleng Bekas Twister

 

dscn0300_400
Antena 2.4. Ghz Dari Bekas Serok Penggorengan Untuk Reflektor
dan DOT (Botol Susu Bayi) untuk Penutup USB WIFI (LNB)

 

dscn0306_400

 

dscn0307_400

                             

 

 

dscn0315_400
Antena 2.4. Ghz dari Tembaga Kabel Listrik NGA, Jpoole 3x5.8

  

Rangka saya buat dari pipa alumunium 1/2”  sedangkan reflektornya saya buat dari ram alumunium yang biasa dipakai untuk jaring nyamuk lubang angin di atas jendela atau pintu rumah. Hasilnya yang diperoleh adalah 36 AP yang termonitor pada Netstumbler.

Ketiga jenis antenna ini saya arahkan ke utara karena tujuan AP Pak Edo sebenarnya ada di utara Kota Bandung, sedangkan posisi rumah saya berada di selatan kota Bandung. Ketika koneksi pertama terjadi, ada satu ketidak percayaan pada saya. Saat itu, Pad Edo menggunakan Grid Antenna 24 dBi yang terarah ke rumah saya posisi.  Jarak antara rumah kami berkisar 7,3 Km.

Empat
adalah bergabungnya Pak Ahe dengan membawa upeti sebuah AP indoor Smartbridges Airpoint yang seksi (telanjang tanpa cover hanya boardnya saja) dan beberapa perangkat wireless lainnya. Melihat AP seksi seperti itu, terjadilah pemerkosaan kaleng twister lagi seperti gambar2 di bawah ini. Antenna standar saya tusukan langsung kedalam kaleng twister untuk menimalkan SWR dan loses power jika ada penambahan pigtail.

 Demikian sekilas kegembiraan bermain dengan perangkat 2,4 Ghz. Masih banyaj cerita lainnya untuk diungkapkan di sini

 Bandung, 10 Oktober 2007

 YD1LQF

 

XHTML™ CSS-2
This page was viewed 637795 times 52472 Users Online.